Selasa, 17 April 2012

Metode dalam Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen penting yang saling berhubungan. Di antara komponen yang ada dalam sistem tersebut adalah metode yang dipakai dalam proses pendidikan. Pengkajian terhadap metode memang menjadi bahan diskusi yang aktual dan menarik untuk diperbincangkan, sebab metode turut menentukan berhasil tidanknya proses pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Bahkan metode sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan berupa materi pelajaran kepada peserta didik dianggap lebih signifikan dibanding dengan materi itu sendiri.
Cara menyampaikan materi dengan komunikatif lebih disenangi oleh peserta didik walaupun mungkin materi yang disampaikan tidak begitu menarik. Oleh karena itu penerapan metode yang tepat sangat mempengruhi pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar yang pada akhirnya berfungsi sebagai diterminasi kualitas pendidikan. Sehingga metode pendidikan yang dikehendaki akan membawa kemajuan pada semua ilmu pengetahuan dan keterampilan. Secara fungsional dapat merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan.

B.     TUJUAN
Dalam  makalah ini pemakalah memaparkan bebarapa tujuan, yaitu:
1.         Memberitahukan kepada pembaca untuk mengetahui metode dalam pendidikan Islam.
2.         Dengan pembahasan ini pembaca bisa lebih mempermudah dalam mengetahui apa-apa saja metode dalam pendidikan Islam.
3.         Untuk dijadikan ilmu dan wawasan dalam pendidikan Islam.
C.    SISTEMATIKA PENULISAN
1.      BAB I PENDAHULUAN
Yang berisi tentang latar belakang, tujuan, dan sistematika
2.      BAB II PEMBAHASAN
Yang berisi materi tentang metode dalam pendidikan Islam
3.      BAB III PENUTUP
Yang berisi tentang kesimpulan dan saran
BAB II
PEMBAHAHASAN

A.    PENGERTIAN METODE
a.       Secara Etimologi
Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani,yaitu metha dan hodos. Metha berarti melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab, metode disebut طرقة yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Mengajar berarti menyajikan atau menyampaikan pelajaran. Jadi, metode mengajar berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pengajaran agar tercapai tujuan pengajaran.[1]
b.      Secara Terminologi
Para ahli memberi beberapa defenisi tentang metode mengajar sebagai berikut:
1.         Hasan Langgulung mengemukakan bahwa metode mengajar adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pengajaran.
2.         Abd Ar-Rahman Ghunaimah mendefenisikan metode mengajar dengan cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.
3.         Al-Abrasyi mengemukakan pengertian metode mengajar sebagai jalan yang diikuti untuk memberikan pengertian kepada murid-murid tentang segala macam materi dalam berbagai pelajaran.[2]
Metode mengajar yang umum dikenal dalam dunia pendidikan hingga sekarang adalah metode ceramah, metode diskusi, metode eksperimen, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode sosiodrama, metode kerja kelompok, metode tanya jawab,  dan lain sebagainya.
Metode pendidikan Islam adalah cara-cara yang digunakan dalam mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Karena pengajaran adalah bagian dari pendidikan Islam, maka metode mengajar itu termasuk metode pendidikan.


B.     PENDEKATAN METODE DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 151.
!$yJx. $uZù=yör& öNà6Ïù Zwqßu öNà6ZÏiB (#qè=÷Gtƒ öNä3øn=tæ $oYÏG»tƒ#uä öNà6ŠÏj.tãƒur ãNà6ßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur Nä3ßJÏk=yèãƒur $¨B öNs9 (#qçRqä3s? tbqßJn=÷ès?
Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.                                 (QS. Al-Baqarah : 151)
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$#
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran :104)

Dari kedua firman Allah tersebut, Jalaluddin Rahmat[3] dan Zainal Abidin Ahmad[4] merumuskan pendekatan pendidikan Islam dalam enam kategori, yaitu sebagai berikut:
1.      Pendekatan Tilawah (Pengajaran)
Pendekatan tilawah ini meliputi membacakan ayat-ayat Allah yang bertujuan memandang fenomena alam sebagai ayat-Nya, mempunyai keyakinan bahwa semua ciptaan Allah memiliki keteraturan yang bersumber dari Rabb al-`Alamin, serta memandang bahwa segala yang ada tidak diciptakan-Nya secara  sia-sia belaka. Bentuk tilawah mempunyai indikasi tafakkur (berfikir) dan tadzakur (berzikir), sedangkan aplikasinya adalah pembentukan kelompok ilmiah, bimbingan ahli, kompetisi ilmiah dengan landasan akhlak Islam, dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, misalnya penelitian, pengkajian, seminar, dan lain sebagainya.
2.      Pendekatan Tazkiyah (Penyucian)
Pendekatan ini meliputi menyucikan diri dengan upaya amar ma`ruf dan nahi munkar. Pendekatan ini bertujuan untuk memelihara kebersihan diri dan lingkungannya, memilihara dan mengembangkan akhlak yang baik, menolak dan menjauhi akhlak tercela, berperan serta dalam memelihara kesucian lingkungannya. Indikator pendekatan ini adalah fisik, psikis, dan sosial. Aplikasi bentuk pendekatan ini adalah adanya gerakan kebersihan, kelompok-kelompok usrah, riyadhah keagamaan, ceramah, tabligh, pemeliharaan syiar Islam, kepemimpinan terbuka, teladan pendidikan, serta pengembangan kontrol sosial (sosial control).
3.      Pendekatan Ta`lim Al-Kitab
Mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur`an) dengan menjelaskan hukum halal dan haram. Pendekatan ini bertujuan untuk membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur`an dan As-Sunnah  sebagai keterangannya. Pendekatan ini bukan hanya memahami fakta, tetapi juga makna di balik fakta, sehingga dapat menafsirkan informasi secara kreatif dan produktif. Indikatornya adalah pembelajaran membaca al-Qur`an, diskusi tentang al-Qur`an di bawah bimbingan para ahli, memonitor pengkajian Islam, kelompok diskusi, kegiatan membaca literatur, dan lomba kreativitas Islami.
4.      Pendekatan Ta`lim Al-Hikmah
Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan Ta`lim Al-Kitab, hanya bobot dan proporsi serta frekuensinya diperluas dan diperbesar. Indikator utama pendekatan ini adalah mengadakan perenungan (reflective thingking), reinovasi, dan interpretasi terhadap pendekatan Ta`lim Al-Kitab. Pendekatan Ta`lim Al-Hikmah dapat berupa studi banding antar lembaga penelitian, dan lain sebagainya sehingga terbentuk konsensus umum yang dapat dipedomani oleh masyarakat Islam secara universal dan sebagai  pembenahan atas tidak relevannya pendekatan Ta`lim Al-Kitab.
5.      Yu`allim-kum maa lam Takuumu Ta`lamuun
Suatu pendekatan yang mengajarkan suatu hal yang memang-memang benar asing dan belum diketahui, sehingga pendekatan ini membawa peserta didik pada suatu alam pemikiran yang benar-benar luar biasa. Pendekatan ini mungkin hanya dapat dinikmati oleh nabi dan rasul saja, seperti adanya mukjizat, sedangkan manusia biasa hanya bisa menikmati sebagian kecil. Indikator pendekatan ini adalah penemuan teknologi canggih yang dapat membawa manusia pada penjelajahan ruang angkasa, sedangkan aplikasinya adalah mengembangkan produk teknologi yang dapat mempermudah dan membantu kehidupan manusia sehari-hari.
6.      Pendekatan Islah (Perbaikan)
Pelepasan beban dan belenggu-belenggu yang bertujuan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, sanggup menganalisis kepincangan-kepincangan yang lemah, memiliki komitmen memihak bagi kaum yang tertindas,dan berupaya menjembatani perbedaan paham. Di samping itu, pelepasan beban dan belenggu ini bertujuan memelihra ukhuwah islamiyah dengan aplikasinya kunjungan ke kelompok dhu’afa, kampanye amal shaleh. Kebiasaan bersedekah, dan proyek-proyek sosial, serta mengembangkan Badan Amil Zakat Infaq dan Sedekah (BAZIS).

C.    ASAS-ASAS METODE PENDIDIKAN ISLAM
Dr. M. Shaleh Muntasir menjelaskan bahwa asas metode pendidikan dalam penyampaian pelajaran adalah menghindarkan ketegangan dan suasana yang menakutkan pada peserta didik dengan menggunakan pelatihan-pelatihan intensif, memberikan contoh dan tingkah laku yang baik, partisipasi yang memadai pada peserta didik, serta memandang bahwa segala aktivitas yang dilakukan merupakan ibadah, asal berangkatnya dengan “bismillah” sebagai penghambaan tugas selaku wakil Allah SWT.[5]
Prof. Dr. Mukhtar Yahya merumuskan empat asas untuk metode pendidikan Islam, yaitu sebagai berikut:
1.      At-Tawasu` fii Al-Maqaashid laa fii Al-Aalah
Prinsip yang mengarahkan agar mempelajari ilmu pengetahuan yang dituju, bukan ilmu yang berfungsi sebagai alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan tersebut. Prinsip ini dilakukan karena adanya suatu asumsi bahwa ilmu pengetahuan itu diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu ilmu yang digunakan untuk dzatnya sendiri seperti ilmu agama dan ilmu yang berfungsi sebagai alat untuk membantu ilmu-ilmu lain seperti ilmu nahwu dan ilmu sharaf.
2.      Muraa`at Al-Isyi`daad wa Thab`i
Prinsip yang mengindahkan kecendrungan dan perwatakan atau pembawaan peserta didik. Para ahli memandang bahwa peserta didik mempunyai kecendrungan dan pembawaan sejak lahir. Implikasi dalam metode ini adalah bagaimana metode ini diterapkan dengan disesuaikan dan diselaraskan dengan kecendrungan dan pembawaan peserta didik.
Al-Farabi dalam bukunya Asy-Syiasi menyatakan bahwa anak adakalanya mempunyai bakat jelek, serta mempunyai kcecendrungan jahat dan bodoh, sehingga sulit diharapkan kecerdasan dan kecakapan bagi anak model ini. Demikian juga anak yang mempunyai pembawaan luhur sehingga mudah dididik.
3.      At-Tadarruj fii At-Talqin
Maksudnya adalah berangsur-angsur dalam memberikan pendidikan dan pengajaran. Prinsip ini diterapkan berdasarkan asumsi bahwa penerimaan pengetahuan kemampuan menguasi pada tahap awal. Hal ini disebabkan anak mempunyai kekuatan otak yang masih sangat minim, sehingga metode pemberian pengetahuan dan keterampilan secara berangsur-angsur (Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya). Oleh karena itu, Al-Ghazali menyatakan bahwa berilah pelajaran anak didik sesuai dengan kekuatan otaknya.
Aplikasi prinsip ini menurut Ibnu Khaldun dapat dilakukan dengan tiga tahap yaitu sebagai berikut:
a.       Marhalah uulaa, pendidik memberikan beberapa permasalahan yang menjadi topik suatu bab, lalu menerangkannya secara global dengan memperhatikan kesanggupan otak peserta didik untuk memahaminya.
b.      Marhalah Tsaaniyah, pengulangan memperlajari tiap-tiap bab dari suatu mata pelajaran dengan keterangan dan penjelasan lebih luas sebagai tangga untuk mempelajari lebih mendalam.
c.       Marhalah Tsaalisah, dipelajari setiap mata pelajaran dengan mendalam, sehingga peserta didik dapat menguasai setiap permasalahan dengan sempurna.
4.      Min Al-Mahsus ila Al-Ma`qul
Prinsip ini diterapkan dalam pembahasan rasional. Proses proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan cara memberikan metode yang dimulai dari pelajaran yang dapat ditangkap oleh pancaindra kemudian diteruskan pada pelajaran yang rasional. Dalam hal ini, seorang peserta didik dapat meneliti dan memperhatikan bahan-bahan yang dapat ditangkap dengan pancaindra kemudian diolah dalam pelatihan olah fikir, sehingga mendapat pemahaman yang rasional.
Untuk merealisasikan prinsip ini, Al-`Abdari dalam bukunya Al-Madkhal mengemukakan langkah-langkah praktis dalam operasionalnya, yaitu sebagai berikut:
a.       Pendidik memulai dengan masalah pertama dari suatu pelajaran dengan menguraikan isi buku yang aka diajarkan sehingga peserta didik memahaminya.
b.      Memaparkan pendapat ulama-ulama yang diketahui dalam masalah tersebut. Apabila dalam pendapat tersebut terjadi pertentangan, pendidik dapat menerangkan pendapatnya dengan dasar hukum dan alasan pendapat masing-masing.
c.       Kemudian pendidik kembali pada pendapatnya, sehingga pendapat lain dapat diterangkan dengan sanggahan-sanggahan yang kemudian akan diterima atau ditolak oleh peserta didik.
d.      Setelah itu, bandingkan masalah tersebut dengan masalah-masalah yang serupa, berbeda, atau mendekatinya.
e.       Kemudian cabangkan permasalahan yang dipelajari sebagai penerapannya.
f.       Untuk menyelesaikan penerapan ini, pendidik dapat memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk bertanya jawab serta mengemukakan keberatan-keberatan yang kemudian dijawab dan dijelaskan oleh pendidik.
Prof. Dr. Omar Muhammad At-Toumy Asy-Syaibani menyatakan bahwa seorang pendidik memperhatikan tujuh prinsip pokok metode pendidikan Islam, yaitu sebagai berikut:
1)      Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat peserta didiknya.
2)      Mengetahui tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan sebelum pelaksanaan pendidikan.
3)      Mengetahui tahap kematangan, perkembangan, serta perubahan peserta didik.
4)      Mengetahui perbedaan-perbedaan individu di dalam diri perserta didik.
5)      Memperhatikan kepahaman, dan mengetahui hubungan-hubungan, integrasi pengalaman dan kelanjutannya, keaslian, pembaruan dan kebebasan berfikir.
6)      Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang mengembirakan bagi peserta didik.
7)      Menegakkan uswatun hasanah.
Di samping itu, dalam asas metode pendidikan Islam juga diperlukan prinsip bervariasi karena prinsip ini membawa iklim dan suasana baru yag dapat menghangatkan gairah belajar anak didik. Cara yang ditempuh pada prinsip bervariasi adalah variasi pergantian pendidik untuk tiap-tiap jam pelajaran, variasi pemberian aspek-aspek materi yang meliputi perilaku, hubungan sosial dan kesulitan belajar. Selain itu, juga diperlukan variasi kegiatan peserta didik, misalnya mendengar, menulis, mengamati, membahas, menggambar, bermain, mencari, menyelesaikan, bertanya, berdiskusi, membuat eksperimen dan lain sebagainya.[6]

D.    BEBERAPA METODE PENDIDIKAN ISLAM
Abdurrahman An-Nahlawi[7] mengemukakan bahwa ada beberapa metode yang dipergunakan dalam pendidikan Islam, yaitu sebagai berikut:
1.      Pendidikan dengan Hiwar Qurani dan Nabawi
Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topik yang mengarak kepada suatu tujuan. Hiwar Qurani merupakan dialog yang berlangsung antara Allah SWT dan hamba-Nya. Sedangkan hiwar Nabawi adalah dialog yang digunakan oleh Nabi dalam mendidik sahabatnya.
2.      Pendidikan dengan Kisah Qurani dan Nabawi
Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain dari bahasa. Hal ini disebabkan kisah Qurani dan nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang mempunyai efek psikologis dan edukatif yang sempurna, rapi, dan jauh jangkauannya seiring dengan perjalanan zaman.
3.      Pendidikan dengan Perumpamaan
Pendidikan dengan perumpamaan dilakukan dengan menyamakan sesuatu dengan cara sesuatu yang lain yang kebaikan dan keburukannya telah diketahui secara umum, seperti menyerupakan orang-orang musyrik yang menjadikan pelindung selain Allah dengan laba-laba yang membuat rumahnya.[8]
Tujuan pedagogis yang paling penting yang dapat ditarik dari perumpamaan adalah:
a.       Mendekatkan makna kepada pemahaman
b.      Merangsang kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut
c.       Mendidik akal supaya berfikir benar dan menggunakan kias (silogisme) yang logis dan sehat
d.      Menggerakkan perasaan yang menggugah kehendak dan mendorongnya untuk melalakukan amal yang baik dan menjauhi kemungkaran.[9]
4.      Pendidikan dengan Teladan
Pendidikan dengan teladan dapat dilakukan oleh pendidik dengan menampilkan perilakuyang baik di depan peserta didik. Penampilan perilaku yang baik (akhlak al-karimah) dapat dilakukan dengan sengaja maupun dengan tidak sengaja.
Keteladanan yang disengaja adalah keadaan yang sengaja diadakan oleh pendidik agar diikuti atau diitiru oleh peserta didik, seperti memberikan contoh membaca yang baik dan  mengerjakan shalat dengan benar. Keteladanan yang tidak disengaja ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan, dan sebagainya. Dalam Pendidikan Islam, kedua macam keteladan tersebut sama pentingnya.[10]
5.      Pendidikan dengan Latihan dan Pengamalan
Salah satu yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya adalah dengan latihan, yaitu memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk mempraktikkan cara-cara melakukan ibadah secara berulang kali. Metode seperti ini diperlukan oleh pendidik untuk memberikan pemahaman dan membentuk keterampilan peserta didik.
6.      Pendidikan dengan `Ibrah dan Mau`izhah
Pendidikan dengan `ibrah dilakukan oleh pendidik dengan mengajak peserta didik mengetahui inti sari suatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, diinduksi, ditimbang-timbang, diukur, dan diputuskan oleh manusia secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati. Misalnya peserta didik diajak untuk merenungkan kisah Nabi Yusuf yang dianiaya oleh saudara-saudaranya dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut.
Pendidikan dengan mau`izhah adalah pemberian nasihat dan peringatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara menyentuh qalbu dan menggugah untuk mengamalkannya.[11] Mau`izhah dapat berbentuk nasihat dan tazkir (pengingatan).

7.      Pendidikan dengan Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan dan membuat senang terhadap suatu maslahat, kenikmatan atau kesenangan akhirat yang pasti dan baik serta bersih dari segala kotoran. Sedangkan tarhib adalah ancaman dengan siksaan akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah atau karena lengah dari menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT.[12]
Mendidik dengan targhib adalah menyampaikan hal-hal yang menyenangkan kepada peserta didik agar ia mau melakukan sesuatu yang baik. Mendidik dengan tarhib adalah menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan agar peserta didik melakukan sesuatu atau tidak melakukannya.



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani,yaitu metha dan hodos. Metha berarti melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.
Pendekatan metode pendidikan Islam ada 6, yaitu:
1.      Pendekatan tilawah (pengajaran)
2.      Pendekatan tazkkiyah (penyucian)
3.      Pendekatan ta`lim al-kitab
4.      Pendekatan ta`limal-hikmah
5.      Yu`allim-kum maalam  takuumu ta`lamuun
6.      Pendekatan islah (perbaikan)
Meurut Prof. Dr. Mukhtar Yahya asas metode pendidikan Islam ada 4, yaitu:
1.      At-Tawasu` fii Al-Maqaashid laa fii Al-Aalah
2.      Muraa`at Al-Isyi`daad wa Thab`i
3.      At-Tadarruj fii At-Talqin
4.      Min Al-Mahsus ila Al-Ma`qul
Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa ada beberapa metode yang dipergunakan dalam pendidikan Islam, yaitu sebagai berikut:
1.      Pendidikan dengan Hiwar Qurani dan Nabawi
2.      Pendidikan dengan Kisah Qurani dan Nabawa
3.      Pendidikan dengan Perumpamaan
4.      Pendidikan dengan Teladan
5.      Pendidikan dengan Latihan dan Pengamalan
6.      Pendidikan dengan `Ibrah dan Mau`izhah
7.      Pendidikan dengan Targhib dan Tarhib
B.     SARAN
Dalam pembuatan makalah ini pemakalah menyadari bahwa banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu, pemakalah mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca yang dapat membangun agar makalah ini bisa menjadi lebih baik. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca agar dapat difahami dan dijadikan acuan dalam proses pendidikan Islam.


[1]  Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Amzah, 2010). Hal. 180
[2]  Ramayulis, Ilmu Pendidikan  Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, 1998). Hal. 77
[3] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2006). Hal. 177
[4] Ibid
[5] Bukhari Umar, Op. cit, hal. 185
[6]  Ibid, hal. 189
[7] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007). hal. 135
[8] Lihat QS. Al-Ankabut : 41
[9] Bukhari Umar, Op.cit, hal.190
[10] Ibid, hal. 191
[11] Ibid, hal. 192
[12] Ibid, hal. 192 



DAFTAR PUSTAKA


Mujib, Abdul. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana
Ramayulis. 1998. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarrta : Kalam Mulia
Umar, Bukhari. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Amzah



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar